Selasa, 17 Maret 2009

"Data Trap" Dalam Rating Program Televisi





Kanal: Opini
Ada hal yang menarik, yang terungkap dalam Raker News Magazine Trans TV, Desember 2006. Pak Sulaeman Sakib, Kepala Departemen Magazine di Divisi News Trans TV, mengungkapkan apa yang disebutnya sebagai “data trap.” Yakni, kesalahan dalam membaca data rating/share, yang berimplikasi pada kesalahan membaca apa yang sebenarnya dibutuhkan atau diinginkan penonton TV.

Secara sederhana, perumpamaannya begini: Ada seorang pedagang yang menjual singkong goreng, tempe goreng dan tahu goreng. Dari data, terbukti yang paling banyak dibeli orang adalah singkong goreng. Hal ini ditafsirkan oleh para pedagang lain bahwa masyarakat membutuhkan atau menginginkan singkong goreng. Maka beramai-ramailah mereka ikut menjual singkong goreng.

Padahal, sebenarnya masyarakat (terpaksa) membeli singkong goreng, karena tidak ada alternatif lain yang tersedia di pasar. Mereka sebenarnya ingin makanan yang rasanya agak manis. Seandainya ada yang menjual pisang goreng, mereka sebenarnya ingin membeli pisang goreng. Apa daya, yang tersedia cuma singkong, tempe dan tahu. Dari tiga pilihan ini, yang agak manis atau masih bisa dicampur gula, adalah singkong goreng.

Nah, analogi ini mungkin bisa diterapkan pada praktik umum yang dilakukan banyak stasiun TV. Mereka tiap hari atau tiap minggu menganalisis data rating/share yang disediakan Nielsen Media Research. Ketika rating tertinggi diperoleh program “esek-esek” di satu stasiun TV, misalnya, maka beramai-ramailah stasiun TV lain memproduksi program “esek-esek”.

Padahal data kuantitatif itu bisa mengecoh. Bisa jadi, penonton menginginkan program lain, yang saat itu tidak tersedia di pasaran. Jadi, diperlukan survey atau penelitian kualitatif untuk melengkap data rating/share dari Nielsen Media Research tersebut, dan menangkap apa yang sebetulnya dibutuhkan atau diinginkan penonton.

Saran dan pandangan ini mungkin masih seperti angin semilir, di tengah badai persaingan sengit antar-stasiun TV, yang sangat terpaku pada data kuantitatif Nielsen. Namun, mudah-mudahan, meski pelan dan bertahap, pandangan-pandangan alternatif ini bisa mendapat perhatian dan diterima oleh para pengelola dan pemilik media TV. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar