Selasa, 17 Maret 2009

Mengejar "Rating" yang Kian Seret

Mengejar "Rating" yang Kian Seret
Minggu, 7 Desember 2008 |

Budi Suwarna

Bahkan sinetron pun sulit menembus rating 5. Inilah fenomena industri televisi swasta nasional satu-dua tahun terakhir ini.

Ketika televisi swasta nasional masih berjumlah lima buah (RCTI, SCTV, TPI, Indosiar, ANTV), sebuah acara bisa meraih rating belasan hingga puluhan. Menurut Direktur Program RCTI Harsiwi Achmad, Rabu (3/12), sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang diputar di RCTI tahun 1990-an pernah mencapai rating 50, dengan audience share 80 persen atau mampu merebut 80 persen penonton dibandingkan dengan acara lain yang diputar pada jam tayang yang sama.

Rating setinggi itu mungkin tidak akan terulang lagi. Pasalnya, perolehan rating dari tahun ke tahun kian seret. Bahkan, setahun terakhir ini, kata Harsiwi, sebuah acara, termasuk sinetron, sulit menembus rating 5.

”Dulu, sinetron yang hanya mampu meraih rating 5 harus siap-siap ’dibunuh’. Sekarang, dapat rating 5 sudah bagus,” lanjut Harsiwi.

Menurut dia, rating tertinggi yang diraih RCTI selama tahun 2008 adalah 8,3, dengan audience share 37 persen. Namun, rating tertinggi itu bukan diraih oleh acara reguler, melainkan siaran langsung pertandingan tinju Chris John versus Hiroyuki Enoki akhir Oktober lalu.

Seretnya rating juga terjadi pada televisi swasta nasional lainnya. Kepala Departemen Marketing PR Trans TV Hadiansyah, Kamis, mengatakan, tahun 2001, sebuah acara masih bisa menembus rating 10. Namun, sejak tahun 2007, untuk menembus rating 7 saja sulitnya minta ampun. Rating tertinggi acara reguler Trans TV saat ini adalah reality show Termehek-mehek, yakni antara 6 dan 7.

Apa yang menyebabkan rating seret? Harsiwi menunjuk persaingan antartelevisi yang kian ketat. ”Jumlah televisi jauh lebih banyak. Ada televisi nasional dan lokal. Itu membuat penonton terbagi ke banyak televisi. Artinya, rating-nya juga terbagi-bagi.”

Jenuh

Direktur Program SCTV Budi J Sutjiawan mengatakan, selain persaingan kian ketat, acara televisi sekarang kian seragam. Mengapa? Karena tiru-meniru program sudah dianggap lazim. ”Coba saja, ketika kami membuat acara yang bagus, tidak lama ditiru televisi lain,” ujar Budi, Kamis.

Hadiansyah menambahkan, contek-mencontek program itu sudah menjadi rahasia umum di industri televisi nasional. ”Kalau ada acara yang rating-nya bagus, televisi lain akan ’menghajar’-nya dengan membuat tayangan sejenis. Tujuannya agar acara itu tidak memimpin sendirian dan rating-nya bisa terbagi ke acara lain. Ini juga menjadi penyebab mengapa rating sebuah acara tidak pernah bisa tinggi lagi,” katanya.

Pernyataan Hadiansyah tersebut juga menjelaskan mengapa kreativitas industri televisi tidak banyak berkembang sejak televisi swasta bermunculan tahun 1990-an hingga sekarang. Kebanyakan sinetron dari dulu hingga sekarang ceritanya mirip-mirip.

Adegan utamanya masih seputar tangis-tangisan dan tampar- tamparan. Karakter tokoh dalam sinetron tidak lebih dari dua, yakni tokoh yang baiiiiiik sekali dengan tokoh yang jahaaaat sekali.

Acara lawakan pun masih sebatas memancing tawa dengan mengolok-olok kekurangan fisik orang lain.

Mengapa seperti itu? Karena kreativitas industri televisi nasional baru sebatas ”melayani” rating. Itu sebabnya, mereka tidak berani keluar terlalu jauh dari acara-acara yang, menurut rating, disukai mayoritas penonton.

Budi berpendapat, acara televisi yang seragam menjadi faktor lain mengapa rating televisi merosot belakangan ini. Dia menduga, sekarang ini sedang ada penurunan penonton televisi nasional. Mereka, katanya, kemungkinan berpindah sementara ke media alternatif hiburan seperti internet.

”Industri televisi memang begitu. Kalau ada acara yang benar- benar menarik, jumlah penonton akan naik. Kalau acara televisi sedang jelek-jelek, penonton akan turun,” lanjut Budi.

Agus Sudibyo, Deputi Direktur Yayasan SET—lembaga yang mendukung kebebasan media dan demokratisasi penyiaran— berpendapat, jumlah warga kelas menengah ke atas mulai memilih-milih acara televisi. ”Sekarang banyak keluarga kelas menengah atas yang enggan nonton televisi nasional. Mereka beralih ke internet atau televisi berbayar,” ujarnya, Rabu.

Menurut Agus, itu terjadi karena acara hiburan di televisi nasional umumnya dangkal, banyak mengandung kekerasan, dan tidak mendidik. Survei rating publik yang digelar SET pada Oktober 2008 memperlihatkan, 45,8 persen responden (kelas menengah) menganggap acara hiburan di televisi sangat buruk. Hanya 15,6 persen responden yang menilainya baik.

Acara hiburan dianggap mengandung kekerasan, berbahaya bagi anak, dan tidak memberi contoh perilaku yang baik. Sebaliknya, acara berita umumnya dianggap baik dan bermanfaat.

Agus memperkirakan, kalaupun ada penurunan jumlah penonton televisi nasional, itu baru terjadi di kelas menengah atas karena mereka memiliki alternatif media hiburan lain, seperti televisi berbayar dan internet. Untuk kelas bawah, jumlah penonton tidak banyak berubah.

Berbeda dari Budi dan Agus, Harsiwi berpendapat, jumlah penonton secara keseluruhan tidak berubah. Bisnis pun tidak terpengaruh penurunan rating. Iklan tetap tumbuh.

Memang, seseret apa pun rating—selama ini dialami semua televisi nasional—tidak menjadi masalah. Kalau dengan rating 5 sebuah acara sudah bisa bertengger di urutan satu, itu sudah cukup. Yang penting kan peringkatnya, bukan angkanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar