Selasa, 17 Maret 2009

rating tv



11 June 2007
TV RATING

Posted by iman under: PERIKLANAN .

Ada pemikiran menarik dari pakar komunikasi Effendi Gazalie minggu lalu dalam harian Kompas, yang menentang dominasi rating televisi terhadap kebijakan siaran televisi. Tentu saja kaitannya dengan pemilihan program acara. Bagaimana tidak, dengan isi acara televisi yang lebih banyak cinta cinta anak SMA, horror, hidayah yang tidak bermutu, hiburan talkshow yang lebih banyak komedinya membuat banyak orang bertanya tanya apakah benar ini yang menjadi bench mark tontonan bangsa ini ? Pemilihan rating ini yang dilakukan oleh lembaga riset bisnis juga , membuat televisi terjebak untuk membuat acara berdasarkan data yang dibuat lembaga riset tersebut, serta kaitannya dengan nilai rupiah iklan iklan yang menjadi pemasukan TV. Klopnya, pemilik TV di Indonesia merupakan pebisnis ala pedagang kelontong yang tidak berpikir tentang kontribusi penyiaran terhadap pendidikan atau budaya misalnya.

Permasalahannya apakah data tersebut cukup akurat dengan metode sampling untuk menentukan bentuk tontonan ini memang digemari orang, repotnya lagi tidak ada lembaga riset independen yang mengurusi hal seperti ini. Pemerintah juga tidak peduli, padahal di Amerika sejak tahun 60an sudah ada pengaturan mengenai urusan TV rating yang disahkan kongres, karena memang bisa mempengaruhi pola pikir suatu masyarakat. Ini bisa jadi mengerikan karena televisi sudah menjadi bagian pola hidup manusia. Bayangkan saja penonton kita mengalami cultural brain wash , karena dijejali bentuk bentuk tontonan kering, tidak inovatif dan melankolis. Ibu tiri yang kejamnya luar biasa,pembantu yang cantik jelita, bapak guru yang bercinta dengan muridnya sampai cerita agama yang lebih mengajarkan sosok Tuhan dengan pecut api di tangan kiriNya serta dan pintu neraka di tangan kananNya.

Jauh di pelosok pelosok negeri ini, masih banyak orang yang mungkin tidak peduli dengan tayangan TV ini. Atau juga karena metode sampling riset tidak menyentuh mereka, yang jumlahnya 80 % dari populasi negeri ini. Ketika saya melakukan seleksi dari masyarakat pinggiran di dari Pekalongan, Jogjakarta, Kediri, Tuban untuk dipilih menjadi bintang iklan bersama Mbah Marijan beberapa waktu yang lalu. Menakjubkan ada dari mereka yang tidak tahu siapa Ratu , bahkan juga tidak peduli ketika acara Infotainment sedang berlangsung. Bagi mereka tidak masuk akal membayangkan sebuah dunia yang begitu jauh, begitu absurd dan mungkin begitu palsu. Bambang Tri selingkuh dan kawin lagi dengan MayangSari so what bagi mereka. Sementara di kota besar kalau cerita Maia bahwa Ahmad Dani sedang selingkuh dengan salah satu vokalis group Dewa Dewi terekspose, bisa bisa akan mendongkrak nilai jual per spot sebuah iklan disana. Jadi siapa dapat dipercaya ? rating televisi, iklan yang bombastis atau Maia ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar