Selasa, 31 Maret 2009

project 2 DKV 4

A. ALASAN PEMILIHAN PRODUK/MEREK KOMPETITOR

a. Latar Belakang Pemilihan Produk

Produk wafer Kongguan dipilih karena merek ini sudah cukup terkenal di tingkat nasioal maupun internasional. Hanya saja orang mengenalnya sebagai biscuit dengan kemasan dalam kaeng besar atau dalam bentuk banyak dan isi yang banyak juga.

b. Latar Belakang Pemilihan Brand / Merek

Produk Wafer kongguan dipilih sebagai karena masyarakat menggma. anggap produk ini hanya pada hari besar dan hari raya agama. Dikarenakan memiliki jumlah yang banyak dalam setip kemasannya.

Segmentasi produk ini adalah masyarakat menengah tengah, sehingga image produk ini adalah produk yang hanya diperlukan pada saat tertentu yang disebabkan oleh bayaknya isi dalam setiap kemasannya


B. IDENTIFIKASI DATA BRAND/MEREK KOMPETITOR

B.1. Gery Saluut

Data Produk

a. Nama Produk/Brand/Merk

Wafer Khongguan

b. Nama Perusahaan

Kongguan Group

c. Sejarah Perusahaan

Kongguan Group

Khong Guan Biscuit Factory (S) Pte Ltd. (KGB) manufactures a wide range of biscuit, crackers, cookies and chocolate-related products enjoyed by families around the world. Established in 1947 in Singapore, KGB has grown over the years from a local household name to the major worldwide brand it is today.

In the process of establishing a worldwide presence, KGB began to recognize the full potential of the US market. That led to the incorporation of KHONG GUAN CORPORATION (KGC) in 1982 as a US-based company that would specialize in the product development and marketing of its namesake biscuits.

From humble beginnings in a small home office in Berkeley, California - mainly to facilitate the appointment of exclusive agency for our biscuits - KGC saw growing demand for proper market representation and just-in-time inventory control of our products.

It wasn't long before we needed our own warehouse to better serve our customers. So four years later in 1986, we rented a 2,500 sq.ft. warehouse on Tripaldi Way in Hayward, California and started to expand our network to reach the entire North American market.

Based on the success or our unique marketing-based and geographically exclusive distribution strategy, we signed our first third party agency agreement with Cerebos, maker of the popular BRAND'S Chicken Essence, in 1987. At the time, BRAND'S had less than 5% market share; since partnering with KGC, market share has grown to more than 80% in 1991 and to over 90% at present. As a result, KGC has been awarded Cerebos' Best Performance Distributor Award four times since recognition began six years ago.

Khong Guan Biscuit's own market share grew from a modest 4% in 1986, to become market leader in just three years and was the first Asian biscuit manufacturer to produce TV and newspaper ads in the U.S.

The year 1989 witnessed further expansion as we acquired the Northern California distributor of our biscuits, King Wai Trading Company. To grow both businesses, we purchased 1.5 acres of land near our original Hayward warehouse and built a 26,000 sq.ft. warehouse of our own.

In 1991, after observing that many Filipino manufacturers lacked the proper representation to serve the second largest Asian population in North America, KGC accepted requests by several well-known Filipino food manufacturers to represent them as North American Marketing Coordinator. Working on behalf of these clients we assist ed in trade marks registration, resolve d many US FDA regulation issues, and implemented cohesive plans to market their product s across North America. Wi th an initial transaction of one to two containers per month nationwide, we've grown our Filipino business to more than 10 containers per month for the Northern California market alone. We now represent major manufacturers from China, Korea, Taiwan, The Philippines, Indonesia , Singapore, Malaysia, Thailand and Vietnam .

Given our increasing variety of products and our commitment to maintaining inventory on each item, KGC was bound to see further expansion. In 1993 our vision for growth was once again turned into reality - this time almost tripling our existing storage capacity via the acquisition of a 3.5 acre lot in the heart of Union City, California, our present corporate headquarters.

To deliver the most value for our clients and customers, we incorporated many innovations to maximize efficiency in our new modern warehouse including eight fully-integrated container docking stations, an in-house full-size cold storage facility, an advance d first-in-first-out inventory flow control system, and in-building main office s for close coordination and monitoring.

In 1996, our distribution company, King Wai Trading, began distributing outside of California to Colorado and Utah . In 1998, King Wai expanded its reach to the Pacific Northwest. King Wai now distributes to virtually all Asian stores west of the Mississippi. And 2006 saw the opening of our third regional warehouse near Seattle, Washington, proving our commitment to organic, manageable geographic growth.

Over the years KGC has been equally committed to the mainstream market as well. Our namesake Khong Guan Biscuits have been carried by mass market chains like Safeway, Lucky's, and Costco since the late 1980s. We are also active members of The Biscuit And Cracker Manufacturers' Association, The National Association For The Specialty Food Trade (NASFT), and the Food Marketing Institute (FMI). We regularly exhibit in The NASFT's Winter Fancy Food Show in San Francisco and have exhibited at the Summer Fancy Food Show in New York City. We use these and similar events as platforms to promote our Asian brands to mainstream market buyers, providing our clients the potential for brand development beyond ethnic markets in North America .

Rahasia Bertahan Sang Raja Biskuit
Kamis, 22 Juli 2004
Oleh : Sudarmadi

Di tengah gencarnya serbuan pemain lokal dan multinasional, Khong Guan mampu bertahan sebagai pemimpin pasar biskuit. Meski sempat kesulitan saat krisis, kini terus tumbuh dan sanggup menghidupi tak kurang dari 6 ribu karyawan. Kunci suksesnya?

?Mempertahankan jauh lebih sulit ketimbang meraih pertama kali. Saya bangga bisa datang dan mampu mempertahankannya." Kalimat ini keluar dari mulut Roger Federer, petenis nomor satu dunia asal Swiss, ketika kembali berhasil menjuarai nomor tunggal putra Wimbledon Championship beberapa minggu lalu, setelah menundukkan petenis berbakat Amerika Serikat, Andy Roddick. Bisa dimengerti kalau Federer mengucapkan kata-kata itu dengan terharu sambil menitikkan air mata.

Di dunia bisnis sebenarnya fenomenanya setali tiga uang. Sering kali mempertahankan posisi market leader di pasar jauh lebih sulit ketimbang meraihnya. Logikanya, untuk menjadi market leader amat terbuka peluang bagi pemasar bila mampu masuk di industri yang pemainnya belum banyak atau menjadi pionir di segmen industri tertentu dan kemudian menggarapnya lebih serius. Namun, mempertahankannya sering lebih sulit, karena di belakangnya biasanya sudah menghadang pemain-pemain baru dan para follower yang siap mengancam. Karena itu, prestasi yang dicapai Khong Guan, dalam mempertahankan posisi market leader di industri biskuit, pantas diapresiasi lantaran tak dicapai dengan mudah.

Produk-produk perusahaan biskuit yang hadir di Tanah Air sejak 1970-an ini sudah sedemikian memasyarakat. Apalagi saat-saat hari raya ? semisal Lebaran ? bagi cukup banyak keluarga di Indonesia rasanya belum lengkap bila belum menyediakan kalengan biskuit Khong Guan di meja ruang tamu. Yang jelas, produk Khong Guan kini terdistribusi hingga ke pelosok-pelosok desa dan terus diminati sampai sekarang, utamanya oleh kalangan menengah-bawah. Dari sisi penguasaan pasar, "Kami masih market leader; pangsa pasar kami sekitar 35%," ujar Budi Hendarto, Direktur PT Khong Guan Indonesia (KGI), mengklaim.

Tentu, untuk meraih prestasi itu butuh endurance prima. Pergulatan yang harus dilalui pasti tidak ringan. Apalagi, kenyataannya tingkat persaingan di pasar biskuit makin ketat. Kini, secara total tak kurang dari 200 produsen biskuit yang bertarung di Indonesia. Tak sedikit di antara mereka merupakan pemain besar, semisal PT Mayora Indah (Roma), PT Multi Food (Sulawesi Utara), PT United Baru Biscuit (Sidoarjo), Grup Orang Tua/ABC (Tango), dan yang lainnya.

Belum lagi, harus menghadapi tantangan lebih berat yang datang dari kalangan perusahaan multinasional yang makin agresif sejak krismon. Sebut saja Arnott's, perusahaan biskuit terbesar Australia yang mengakuisisi anak usaha Grup Kalbe, PT Helios Food (Good Time). Kemudian ada raksasa industri makanan asal Prancis, Danone, yang makin rajin mendekati konsumen Indonesia dengan berbagai produk baru (Biskuat, dan lainnya) dan promosinya. Demikian juga Nabisco Food asal Amerika Serikat, yang makin aktif setelah mendirikan perusahaan baru dengan menggandeng Grup Rodamas milik Tan Siong Kie. Harus diakui, hadirnya tiga multinasional ini memicu dinamika industri biskuit sehingga makin kompetitif dan memaksa pemain lama untuk aktif. Khong Guan sebagai bagian dari penguasa pasar jelas mendapat ancaman serius.

Jika hingga saat ini Khong Guan masih tetap memimpin, tak bisa dipungkiri karena memiliki keunggulan. Dari sisi promosi, sebenarnya Khong Guan tak lebih agresif atau lebih baik dibanding pemain lain. "Perusahaan ini bisa disebut konservatif," kata pengajar Magister Manajemen Universitas Indonesia Rhenald Kasali. Selama ini promosi Khong Guan, terutama melalui media-media lini atas (above the line), bisa dikatakan relatif minimal. Jauh kalah agresif dibanding pemain lain seperti Biskuat (Danone), Oreo (Nabisco), Roma (Mayora) ataupun Tango (Grup ABC).

Keunggulan utama Khong Guan justru pada sisi distribusi. "Jaringan distribusi Khong Guan cukup kuat. Hampir di tiap pelosok dan daerah di Indonesia ada produk Khong Guan. Di mancanegara jaringan distribusinya cukup kuat," ungkap Darmadi Durianto, pakar pemasaran dari IBIi Consulting. Darmadi tentu tak salah, Khong Guan termasuk salah satu produk yang distribusinya paling merata dan masif, hingga ke desa-desa. Kemampuan seperti ini belum bisa dilakukan pemain baru seperti Oreo atau Biskuat yang lebih banyak bermain di modern channel.

Manajemen KGI sendiri bisa mempertajam distribusi karena menggunakan pendekatan outsourcing. Dalam hal ini KGI tak mendistribusikan sendiri produk-produknya baik secara langsung atau melalui anak perusahaan. Semua diserahkan ke para distributor dan KGI sama sekali tak mau mencampuri wewenang distributor. Pola yang dipakai ialah sistem multidistributor. Jadi, KGI sengaja tak menunjuk satu atau dua distributor besar skala nasional, tapi lebih memilih menggandeng distributor sebanyak-banyaknya.

"Biasanya tiap provinsi kami angkat satu distributor. Kemudian mereka kami bolehkan untuk mensubdistribusikan ke mitra-mitra di wilayahnya," tutur Budi. Yang jelas, dengan pola ini Khong Guan bisa mencapai kerapatan distribusi yang lebih tinggi, dan kelancaran suplai ke konsumen bila di pasar tiba-tiba terjadi lonjakan permintaan seperti pada hari-hari besar dan Lebaran. Kini bila dipetakan lebih jauh, penyebaran produk-produk Khong Guan sebagian besar masih tetap di Jawa, yakni sekitar 70%, sedangkan 30% sisanya tersebar di berbagai kepulauan mulai dari Sumatera hingga Irian Jaya.

Selain distribusi, keunggulan Khong Guan juga terlihat dari kelengkapan produk yang ditawarkan. KGI mengelola tak kurang dari 400 varian produk, mencakup berbagai jenis biskuit, mulai dari cream crackers, hard biscuit, wafer, hingga cookies. Secara garis besar, produk-produknya disasarkan untuk tiga segmen usia, yakni anak-anak, remaja dan dewasa. Untuk segmen anak-anak, ragam produk yang dipasarkan misalnya snack noodle Mimi, L.A. Bear, Choco Bear, Big Royal Wafer, Mini Stick, Togo, dan lain-lain. Lalu, untuk kalangan remaja ada Blitz, Milk Marie, Togo Fit, Oishii, Togo Bar, Big Royal Coating, dan lain-lain. Sementara buat kalangan dewasa, disediakan pilihan seperti Cream Crackers, Malkist Crackers, Marie Special, OPP Red, Red Khong Guan, Butter Cookies, wafer, dan sebagainya.

Selama ini memang banyak yang menilai produk-produk Khong Guan itu-itu saja. Stagnan dan tak ada inovasi produk baru. Maklum, ini lantaran kebanyakan konsumen melihat produk Khong Guan kaleng merah (assorted biscuit) yang sejak dulu tak pernah diubah kemasannya. "Bila yang dilihat hanya produk ini, tentu tak betul karena kemasan kaleng ini sengaja kami biarkan karena konsumennya masih banyak. Permintaan tetap bagus,? ungkap Budi. ?Tapi selain itu kami tawarkan produk-produk lain yang lebih inovatif."

Menurut Budi, di KGI terdapat tiga merek utama yang selama ini ditawarkan ke konsumen dan menyasar segmen yang berbeda-beda. Yakni, merek Khong Guan sendiri, Nissin, dan Monde. "Khong Guan kami sasarkan buat menengah-bawah, Nissin buat kalangan menengah, sedangkan Monde untuk menengah-atas. Jadi semua kami garap,? ujar profesional yang telah bekerja di KGI sejak perusahaan itu didirikan. ?Namun kebanyakan orang tahunya hanya Khong Guan," katanya setengah mengeluhkan. Dalam hal ini KGI membagi segmen pasar berdasarkan psikografis konsumen.

Tentu dengan memiliki portofolio merek lebih banyak, manajemen KGI merasa lebih leluasa memasarkan produknya. Biasanya, dijelaskan Budi, masing-masing segmen, punya kualifikasi dan desain kemasan produk yang berbeda. Semakin ke atas kelas yang dituju, kemasan makin bagus. Kemasan Monde Butter Cookies misalnya berupa kaleng yang cukup luks.

Yang jelas, dengan banyaknya produk yang ditawarkan, konsumen lebih leluasa memilih yang paling pas buat mereka, terutama dari sisi harga. Contohnya, untuk kelas menengah- bawah, diwakili produk-produk seperti assorted biscuit, sedangkan menengah-atas direpresentasikan oleh Butter Cookies Monde. Sejauh ini, dalam catatan Budi, dari merek utama dan 400 varian produk yang dipasarkan KGI, kontribusi terbesar masih dari merek Khong Guan sekitar 50%, sedangkan Nissin dan Monde masing-masing menyumbang 25%.

Manajemen KGI berprinsip produknya akan laku bila mampu menjual dalam keadaan fresh dan harga terjangkau. Budi sendiri menjamin produknya cukup fresh karena di perusahannya lalu lintas produk cukup cepat. "Keuntungan kalau Anda beli di toko yang ramai biasanya produk-produknya masih baru dan fresh," ujarnya. Selain itu, agar produknya lebih laku, pihaknya berusaha mengambil margin keuntungan sedikit dari tiap produk yang dijual. "Makin banyak produk terjual, proses produksi makin efisien," kata Budi seraya menjelaskan biasanya umur kedaluwarsa produk biskuit sekitar setahun.

Dikatakan Budi, salah satu faktor yang membuat KGI menjadi pemain yang cukup diperhitungkan di bisnis biskuit karena sebagai pemain lokal pihaknya lebih mengetahui selera konsumen Indonesia. "Pada intinya makanan adalah soal rasa. Produk kami cocok dengan kebanyakan lidah orang Indonesia," ungkapnya yakin. Faktor lainnya, lanjut Budi, karena perusahaannya terus mengembangkan berbagai varian baru, mengikuti tren-tren biskuit terbaru di mancanegara. Menurut keyakinan Budi, sebagai pemain lokal, pihaknya jelas akan lebih fleksibel dan lincah dalam bermanuver, termasuk dalam peluncuran produk baru.

Karena fleksibiltas itu pula, sehingga ketika krisis KGI bisa mendesain produk dengan harga murah. Untuk menyikapi daya beli konsumen yang menurun ketika itu, kemasan dibuat sederhana, hanya dengan plastik polos yang tipis sehingga harganya bisa murah. Produk ini yang dijual ke kalangan menengah-bawah. Biasanya juga dijual di seputar pabrik-pabrik Khong Guan.

Sementara itu, isu peremajaan kini memang menjadi tema penting manajemen KGI. Peremajaan dilakukan dari sisi produk maupun dari pembenahan manajemen. Dari sisi produk, tepatnya sejak setahun terakhir KGI makin memperbanyak varian-varian produk baru. Bahkan kini sedang melakukan beberapa sampling untuk produk baru. KGI baru saja meluncurkan produk biskuit kering yang dikemas kecil dalam sachet (milk biscuit) yang disasarkan buat anak-anak muda.

Adapun dari sisi manajerial, sebagai bentuk keseriusan peremajaan itu, sejak sekitar 1,5 tahun lalu Khong Guan melakukan pembenahan organisasi. Di antaranya, merekrut 8 profesional baru (level manajer) untuk membenahi di sana-sini. Rekrutmen dilakukan untuk mempercepat pebaikan dari sisi produksi dan pemasaran. Dari sisi produksi, misalnya. Dalam rangka meningkatkan kendali mutu, KGI akan mengadaptasi sertifikasi ISO dan menerapkan sistem manajemen yang teratur, sedangkan dari sisi pemasaran, sistem pemasaran KGI juga diperbaiki karena realitas sekarang yang sudah jauh berubah.

Dari sisi promosi, Budi mengakui pihaknya relatif jarang berpromosi lewat jalur above the line. Namun tak berarti KGI tak beriklan sama sekali. Misalnya KGI kini tengah menjadi sponsor utama program Reality Show di sebuah televisi swasta. Rhenald bisa memaklumi kalau Khong Guan tak terlalu gencar promosi. "Brand mereka sudah sangat kuat, dan inilah keunggulan mereka sehingga bisa bertahan," ujarnya.

Manajemen KGI sendiri nampaknya lebih menggenjot aktivitas below the line semisal promosi di supermarket, mengelola displai di modern channel, berpartisipasi di berbagai event, hingga aktif menyelenggarakan bazar. "Kini kami sedang promosi besar-besaran untuk produk milk biscuit," kata Budi. Masih di bidang promosi, untuk meningkatkan awareness, KGI mendirikan beberapa showroom seperti di Jalan Sabang dan Jalan Wahid Hasyim, serta di Cilegon (Cilegon Supermal). Showroom ini diposisikan menjadi etalase yang memajang secara lengkap semua produk KGI, selain untuk kebutuhan image building.

Melalui strategi itulah hingga kini Khong Guan tetap bisa bertahan sebagai pemimpin pasar di pasar biskuit dengan pangsa 35%. Dalam hitung-hitungan konservatif SWA, omset KGI lebih dari Rp 150 miliar. Sebagai bahan perbandingan bisa dilihat dari omset bisnis biskuit Mayora Indah yang saat ini sudah sekitar Rp 300 miliar -- omset konsolidasi Mayora sekitar Rp 1,1 triliun. Padahal, sesuai penuturan Budi, di pasar biskuit KGI masih memimpin pasar, jadi masih lebih besar dari Mayora. Apalagi produk-produk KGI juga sudah diekspor ke berbagai negara, di antaranya ke Singapura, Brunei, Thailand dan Korea. Hanya saja, kontribusi ekspor baru 10%. KGI juga melayani toll manufacturing sehingga beberapa produk yang diekspor menggunakan merek perusahaan pemberi order.

Ketika krisis ekonomi melanda, KGI termasuk perusahaan yang terkena dampak langsung. "Harga raw material kami seperti terigu dan minyak goreng, meski diproduksi di Indonesia juga mengacu pada standar harga internasional sehingga ikut naik," papar Budi. Tak heran, saat krisis penjualan KGI sempat terpangkas besar, tinggal 30%. Namun saat ini diakui Budi berangsur-angsur sudah kembali pulih. Tiap tahun setidaknya tumbuh 10%. Menurutnya, modal utamanya dalam persaingan ialah percaya diri, termasuk menghadapi pemain asing. Lebih lanjut ia melihat hadirnya pemain asing akan memperbesar kue pasar biskuit. Meski persentase pangsa KGI bisa jadi menurun, realitasnya omset meningkat karena pasarnya memang membesar setelah banyak pemain yang aktif.

Sekarang, kepemimpinan KGI berada di generasi kedua, Hartono Darmono (putra sang pendiri) yang menjabat sebagai Direktur Utama. Tak kurang dari lima pabrik telah dimiliki KGI, antara lain di Jakarta, Cibinong, Semarang dan Surabaya. Karyawannya juga tak bisa dibilang sedikit, sekitar 6 ribu orang.

Sekadar kilas balik, KGI didirikan pada 1970-an oleh Hidayat Darmono. Pendirian perusahaan ini sebenarnya tak lepas dari realisasi program penggalakan industri dalam negeri yang dicanangkan pemerintah saat awal Orde Baru. Ketika itu pemerintah mendorong tumbuhnya sektor industri, khususnya di bidang makanan dan minuman. Biskuit merek Khong Guan sendiri awalnya merupakan produk impor dari Singapura. Sementara itu, Nissin dari Jepang. Tahun 1971 KGI mulai memproduksi sendiri -- punya pabrik sendiri -- tapi masih dengan lisensi dari Khong Guan Singapura dan Nissin Jepang. Untuk membangun pusat produksi ini, KGI mentransfer teknologi dari KG Singapura dan Nissin Jepang.

Ketika itu tenaga ahli Singapura dan Jepang didatangkan di pabrik Khong Guan di Ciracas. "Soalnya ketika itu pengetahuan kami benar-benar nol, jadi harus benar-benar belajar karena belum ada satu pun yang bisa. Jadi yang mengisi pabrik semua orang asing," Budi mengisahkan. Kemudian di tahun 1980-an, lisensi dari Khong Guan Singapura dan Nissin sepenuhnya diambil alih KGI. Sejak itu pula KGI mulai mengembangkan varian-varian baru. Beberapa produk tetap dipertahankan semisal Monde Butter Cookies (telah ada sejak 1975) dan assorted biscuit Khong Guan klasik karena tingginya permintaan.

Darmadi menganalisis, Khong Guan mampu bertahan di tengah kepungan banyak pemain, karena produksinya cukup besar sehingga tercipta skala ekonomi yang lebih baik (economies of scale). Harga yang ditawarkan tidak terlalu mahal, tapi kualitas tetap bagus. "Jadi larinya ke value. Mereka juga memiliki fighting spirit yang tinggi," ujar Darmadi. Tentu juga lantaran faktor distribusi yang bagus. Dari sisi pemasaran, menurut Darmadi, Khong Guan lebih mengarah ke push marketing ketimbang pull marketing. Karena itu lebih banyak bermain lewat trade channel (trade promo), saluran pemasaran didorong ke bawah. Sedangkan di pull factor-mya kurang digarap untuk menarik permintaan dari masyarakat sehingga promosinya sedikit.

Namun Darmadi kurang setuju kalau Khong Guan dianggap lambat melakukan peremajaan (rejuvenasi). Menurutnya, peremajaan biasanya dilakukan bila suatu merek sudah stagnan atau mature. "So far, saya melihat Khong Guan masih berkembang. Tetapi kalau mau melakukan rejuvenasi, sekarang saat yang tepat. Saya melihat pertumbuhannya mulai melambat. Tetapi tetap harus dipilah-pilah mana yang mesti dilakukan peremajaan," pesannya. Darmadi juga menyarankan agar Khong Guan selain terus berinovasi, baik dari segi taste (rasa) maupun penampilan produk (kemasan), juga mulai menggarap serius kegiatan komunikasi pemasaran. "Jangan merasa puas dengan kondisi sekarang."

Dari sisi gaya manajemen pemasaran, Darmadi menilai Khong Guan tak terlalu sophisticated. Manajemen pemasaran modern belum diterapkan sama sekali, seperti konsep-konsep experiential marketing. "Itu (membuatnya) cukup rentan terhadap serangan," Darmadi mengingatkan. Rhenald juga melihat manajemen Khong Guan sebenarnya sangat sederhana. Produknya tidak terlalu complicated dan teknologinya sederhana. Manajemennya cenderung tertutup dan cukup percaya diri dengan kekuatan mereknya. "Gaya manajemen mereka baru pada tahap merespons pasar. Setelah sekian lama stabil, baru sekarang merasakan ada gejolak pasar. Selama ini mereka cukup percaya diri dengan kekuatan mereknya," tutur Rhenald.

Khong Guan, dalam pengamatan Rhenald, dinilai kurang inovatif dan kurang memiliki pemikir. Mereka cenderung mengikuti jejak produk yang sukses di pasar. "Strategi mereka bukan meniru, tetapi reaktif. Seharusnya mereka menciptakan sehingga produsen lain yang reaktif," katanya menganalisis. Toh, Rhenald mengakui, Khong Guan memang memiliki pelanggan loyal yang luas

Agar Khong Guan tetap eksis, Rhenald menyarankan KGI tak hanya mengandalkan satu merek dan harus inovatif. "Jangan hanya meniru yang sudah ada tetapi juga menciptakan sesuatu yang baru," sarannya. Ia pun menganjurkan, agar Khong Guan sebagai merek ungggulan sebaiknya mulai diremajakan, terutama dalam hal kemasan. ?Dan tak kalah penting, memperbanyak pemikir untuk lebih bisa merespons pasar dan melahirkan inovasi-inovasi baru,? ujarnya.

Anjuran Darmadi ataupun Rhenald rasanya memang pantas. Dengan belajar berinovasi dan menguatkan barisan pemikirnya, Khong Guan akan bisa menutup segala lini lemahnya belakangan ini. Ada baiknya Khong Guna juga belajar dari Roger Federer, yang karena bakat dan kemauan kuatnya untuk berlatih dan belajar, hingga kini ia sering disebut-sebut sebagai petenis paling serba bisa abad ini. Kita tunggu saja!

Logo Perusahaan

Full Color

Versi: Extreme Vertical

Versi: Horizontal

Monochrome

Versi: Extreme Vertical

Pantone Process Black c
C:0 M:0 Y:0 K:100
R:35 G:31 B:32

Pantone Cool Gray 3c
C:0 M:0 Y:0 K:20
R:209 G:211 B:212

Pantone Cool Gray 10c
C:0 M:0 Y:0 K:60
R:128 G:130 B:133

Pantone Cool Gray 6c
C:0 M:0 Y:0 K:30
R:188 G:190 B:192

Versi: Horizontal


Negara-negara yang tercakup dalam wilayah distribusi Garudafood:

  1. Singapura
  2. Malaysia
  3. Indonesia

Marketing Agent
With more than 20 years of marketing experience and comprehensive distribution network, KGC specializes in brand development. Our marketing programs helps overseas manufacturers to identify and attract new customers, increase sales while pushing our various branded products we represent ahead of competition to achieve leadership status in the marketplace.

Typical Product Selection Process:
• Keen awareness and understanding of both local and international market trends.
• Identify products that can serve these needs.
• Estimate market potential for these products.
• Evaluate various manufacturers that have the capability to produce these products and the
required marketing mindset.
• Collect basic information of popular products in their respective Asian market. Information
such as product name, brand, size, rough sales volume and retail pricing.

Typical New Product Development Process
• Product Evaluation.
• Conduct SWOT analysis; Strength, Weakness, Opportunity and Threat of the product.
• Assist the manufacturers to meet all US governmental regulations.
• Set up the best distribution based on our extensive network of Importing Distributors (ID),
Importing Chains (IC), Regional Distributors (RD) and Broker's Network (BN).
• Develop most Effective Marketing Strategy that includes Media Exposure, Promotions,
Product Demo, Point of Sale Purchase and Food Shows/Exhibits.
• Implement the above strategies, which may include Trade Mark registration, Custom registration,
Label development and USFDA approval.
• Monitor market conditions, governmental regulations and manage the growth potential of these
products with the growth capability of the manufacturers.
• Conduct product expansion studies to strengthen brand awareness and market position.

Prestasi

Top-Brand-Award-2007

2007
Top Brand Award
Merek bukan hanya sekedar identitas tetapi mampu menciptakan ekuitas yang tinggi bagi perusahaan, image dan loyalitas jangka panjang. Merek terkuat adalah merek yang selama bertahun–tahun mampu menempatkan diri pada posisi puncak (Top): (1)Top of market share, (2)Top of mind share, (3)Top of commitment share. Oleh karena itu, Majalah Marketing dan Frontier Consulting Group menggelar Top Brand Award 2007. Penghargaan ini diberikan kepada merek-merek yang berhasil mencapai posisi yang top, bukan hanya dalam jangka kurun setahun tapi lebih dari satu tahun. Dua merek Garudafood berhasil meraih dua penghargaan Top Brand untuk kategori kacang bermerek dan jelly drink yaitu Kacang Garuda dan Okky Jelly Drink.

MarketingAward

2006
Marketing Award
Marketing award merupakan penghargaan di dunia pemasaran yang ditujukan bagi perusahaan-perusahaan yang menunjukkan kepemimpinan dalam dunia pemasaran. Ada lima kategori yang diperebutkan dalam ajang ini yaitu The Best Market Driving Company , The Best Innovation in Marketing, The Best IT in Marketing , The Best in Experiential Marketing , The Best in Marketing Campaign. Di ajang yang baru tahun ini digelar, Garudafood menggondol dua penghargaan yaitu The Best Campaign dan The Best Innovation.

d. Pengelola

e. Alamat Perusahaan

  • Company Name : Khong Guan Biscuit Factory (Johore) Sdn Bhd
  • Address : PLO 16, Senai Industrial Estate 81400 Senai Johor Darul
  • Takzim Telephone : 07-5991320
  • Facsimile : 07-5992991
  • Email :
  • Products : Biscuits
  • Description : Manufactures of Biscuits
  • Brand Names : KHONG GUAN Sales Market : Brunei, Singapore

§ Website

http://www.khongguan-group.com

This website is the information centre of Khong Guan Indonesia products for the customers, distributors, suppliers, and retailers. Those parties are able to contribute their opinion about our products, both the flavor and the packaging. A great cooperation between the distributors and Khong Guan Indonesia has reflected in the information about Monde, Nissin, Serena, etc. Updated news of Khong Guan and the launching of our new products are socialized here.

Thank you for the principal, especially Khong Guan Indonesia, for their cooperation and permission to use the name of khongguan.co.id. Hopefully, this website will contribute maximally to fulfil the request and the need of all parties. Any critics and suggestions are welcomed to create a better service and products.

f. Produk Lain Yang Dipasarkan

NISSIN

LEMONIA
Lemonia lemon cookies sekarang tampil dalam kemasan baru yang lebih cerah. Biskuit tipis dan renyah dengan rasa lemon menyegarkan yang akan selalu ceriakan hari-harimu.

RODEO FUSION CRUSH
Biskuit coklat dengan krim vanila yang lembut akan memberikan sensasi yang menyenangkan di setiap gigitan.

RODEO BLACK
Sebuah produk eksklusif yang menggabungkan biskuit coklat dengan krim vanila dan dilapisi dengan coklat asli berkualitas yang akan memanjakan setiap lidah para pecinta coklat sejati yang dijamin akan membuat ketagihan!

KISPER

Kisper adalah wafer bermutu tinggi, terbuat dari tepung gandum dengan perpaduan antara krim coklat, krim susu dengan kacang hazelnut dalam sekali gigit membuat Kisper menjadi wafer yang kaya akan rasa.

MONDE

GENJI PIE
Pilihan terbaik bagi yang berselera tinggi. Pie bertekstur lembut dibuat dari bahan bahan berkualitas yang memberikan sensasi seperti terbang melayang di udara pada setiap gigitan. Monde Genji Pie memang memiliki kelasnya tersendiri.

DANISH MONDE BUTTER COOKIES
Product Classic dengan kemasan modern ini terbuat dari butter 100% asli dan import. membuat product ini menjadi ekslusive bagi setiap yang menikmatinya.

EGG ROLL
Cookies telur berbentuk roll / gulungan ini renyah dan gurih. setiap gigitannya ada suatu kenikmatan yg lebih dan berbeda. menjadikan product ini unggul di setiap jaman.

SERENA

BRONIZ COOKIES
Chocolate chip cookie baru dari Serena. Nikmatilah kelezatan brownies coklat dalam bentuk cookie dengan taburan chocolate chip yang menggoda cocok untuk dinikmati di setiap saat bersama keluarga atau teman-teman dimanapun anda berada.

TOGO RONE
Biskuit wafer unik berbentuk segitiga dengan lapisan krim strawberry yang manis dan dilapisi dengan coklat yang membuat semua lidah bergoyang.

HELIX
Wafer Stick renyah ini sangat disukai kawula muda apalagi dengan Cream cokelat yang membuat hari hari mu menjadi ceria.

1. KHONG GUAN BIG ROYAL

2. KHONGUAN ASORTED 110G

3. KHONGUAN CKL KCA 150G

4. KHONGUAN PEANUT WFR 135G

5. KHONGUAN PEANUT WFR 135G

6. KHONGUAN VINO WFR 95G

KHONG GUAN BISCUIT ANEKA RASA 700G

Harga: Rp29500.00

KHONG GUAN BISCUIT FAMILY 1700G

Harga: Rp57300.00

KHONG GUAN BISCUIT KALENG 700G

Harga: Rp30000.00

KHONG GUAN CHOCOLATE SHORT CAKE 225G

Harga: Rp6000.00

KHONG GUAN COKLAT TOGO 200G

Harga: Rp4500.00

KHONG GUAN COKLAT TOGO KACANG 200G

Harga: Rp4500.00

KHONG GUAN MILK SHORT CAKE 225G

Harga: Rp6000.00

KHONG GUAN SALTCHEESE 200G

Harga: Rp6500.00

KHONG GUAN TOP BISCUIT 1700G PETAK BESAR

Harga: Rp56000.00

KHONG GUAN TOP BISCUIT ASSORTMENT 700G

Harga: Rp29500.00

KHONG GUAN TOP BISCUIT PETAK 1000G

Harga: Rp42800.00

KHONG GUAN TOP EKONOMI BISCUIT 1150G

Harga: Rp45500.00

g. Harga Produk

Supermarket : Rp. 500

Pasar : Rp. 500

Kios : Rp. 500

h. Kelebihan Produk

Produk sudah banyak di kenal orang dan memiliki rasa dan kualitas yang baik.

i. Usp

j. Positioning Produk

Kalangan menengah ke bawah karena Produk Gery Saluut harganya terjangkau.

k. Tagline (n/a)

l. Target audience

· Demografis

§ Jenis kelamin : laki-laki, perempuan

§ Usia : SEMUA (anak-anak

sampai remaja dan keluarga)

§ Siklus Hidup Keluarga : lain-lain

§ Pendidikan : Semua

§ Pekerjaan : Semua

§ Kewarganegaraan : Indonesia

§ SES (Social Economical Status) : bawah atas,

Menengah tengah dan menengah atas

· Geografis

§ Wilayah : Seluruh Indonesia

§ Lokasi :

§ Kepadatan : perkotaan, pinggiran kota, pedesaan

· Psikografis

§ Gaya hidup : modern

§ Kepribadian :

· Behavioristik

§ Manfaat : ekonomis

§ Status Pemakai : pemakai pertama kali, pemakai potensial

§ Status Kesetiaan : tidak ada

§ Tahap Kesiapan membeli : sadar, tertarik

§ Sikap Terhadap Produk : positif

§ Perilaku :

m. Promosi Yang Dilakukan

· Advertising (ATL-BTL/NL) (n/a)

· Trough The Line (Ambience Media) (n/a)

· Sales Promotion (n/a)

Kumpulkan 16 Stamp yang dapat anda tukarkan dengan mOd tube berupa T-Shirt keren dari Rodeo Black (Hitam) dan Rodeo Fusion Crush (Merah).

Setiap pembelian Rodeo Black 1 Box akan mendapatkan 1 Stamp. (selama persediaan masih ada)

Promosi ini hanya berlaku di 3 KG Store kami :

Jl. H. Agus Salim No. 53, Sabang, Jakarta Pusat, Telp : 021-315 4611

Jl. KH. Wahid Hasyim, No. 78, Jakarta Pusat, Telp : 021-3193 1022

Jl. Kyai Maja No. 76, Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Telp : 021-739 7216

Setiap Pembelian produk biskuit senilai Rp 100,000 maka akan mendapatkan payng cantik dari kami (tidak berlaku kelipatan).. Buruan kunjungi ke 3 KG Store kami.
Batas Promosi ini hingga akhir April 2009

Promosi ini hanya berlaku di 3 KG Store kami :

Jl. H. Agus Salim No. 53, Sabang, Jakarta Pusat, Telp : 021-315 4611

Jl. KH. Wahid Hasyim, No. 78, Jakarta Pusat, Telp : 021-3193 1022

Jl. Kyai Maja No. 76, Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Telp : 021-739 7216

· Public Relation (n/a)

· Personal Selling (n/a)

n. Analisis Branding Produk

· Bentuk Packaging Desain

· Color Image Produk

Biru, Merah, hijau dan Kuning

· Logo Product

· Ilustrasi Produk

Menampilkan produk itu sendiri dengan background hijau dan kuning wafer.


C. LAMPIRAN

  • Analisa hasil kuisioner (n/a)
  • Hasil survey (n/a)
  • Foto Aktifitas (n/a)
  • Surat Survey (n/a)
  • Referensi dari buku/majaalah/internet

www.kongguan-group.com, www.google.com, www.garudafood.com,

www.wikipedia.org, http://organisasi.org

  • Data dari SRI, Marketing Mix, sumber-sumber lain (n/a)
  • Lembar Asistensi

REDESINGNING & REPOSITIONING

PRODUK

WAFER KhONGGUAN

PROJECT 2

RISET DAN ANALISA PRODUK

LOGOunm

Oleh:

Chandra Sari

NIM 405253479958

PROGRAM STUDI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL

JURUSAN SENI DAN DESAIN

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar